![]() |
| Ratusan Warga Sungkung Kompleks Gotong Royong Perbaiki Akses Jalan |
πππ‘ππππ¬ππ‘π,
π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π²
– Di tengah riuhnya narasi
"efisiensi anggaran" yang kerap didengungkan pemerintah pusat,
masyarakat di beranda depan NKRI justru menunjukkan aksi nyata. Ratusan warga
dari Desa Sungkung 1, 2, dan 3, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, turun
ke jalan melakukan gotong royong massal untuk memperbaiki akses jalan yang kian
memprihatinkan.
Akses jalan sepanjang lebih dari 4 kilometer, mulai dari
Puncak S menuju Tampasan hingga ke perkebunan warga di Dusun Luu, kini nyaris
tak berbentuk. Padahal, jalur ini merupakan urat nadi utama yang menghubungkan
masyarakat perbatasan dengan pusat kecamatan dan kabupaten.
Kegiatan ini dipicu oleh rasa frustrasi warga terhadap
kondisi infrastruktur yang sudah tidak lagi bisa dilalui kendaraan bermotor.
Selama ini, masyarakat hanya bisa menanti realisasi janji pemerintah untuk
menurunkan alat berat guna memperbaiki jalan tersebut. Namun, harapan itu pupus
setelah alasan "efisiensi anggaran" dari pemerintah pusat menjadi
tembok penghalang.
“Hal yang melatarbelakangi ialah kerisauan masyarakat
terhadap akses jalan yang menjadi urat nadi penghubung masyarakat dengan pusat
kecamatan dan kabupaten yang semakin hari kian rusak parah dan tidak bisa
dilalui oleh kendaraan bermotor. Masyarakat menunggu upaya dan janji dari
pemerintah untuk mengusur menggunakan alat berat tapi tak kunjung
direalisasikan dengan alasan dampak dari kebijakan efesiensi dari pemerintah
pusat.” ujar Stepanus, Koordinator Kegiatan Gotong Royong.
Meski kecewa, semangat swadaya warga tidak luntur. Pantauan
di lapangan menunjukkan lebih dari 100 orang bahu-membahu memperbaiki jalan
secara manual. Menariknya, aksi ini tidak hanya diikuti oleh warga sipil,
tetapi juga menjadi potret sinergi seluruh elemen di perbatasan.
Hadir di tengah kerumunan warga, Camat Siding, para Kepala
Desa, staf perangkat desa, hingga tenaga kesehatan (nakes) dan guru. Mereka
melepaskan seragam formal mereka untuk bersama-sama mencangkul dan meratakan
jalan yang rusak parah.
Gerakan gotong royong massal warga Sungkung Komplek,
Kecamatan Siding, ternyata tidak hanya bermodal tenaga fisik. Di balik aksi
"membedah" jalan rusak sepanjang 4 kilometer tersebut, tersimpan
kekuatan finansial yang murni bersumber dari kocek pribadi masyarakat dan para
simpatisan.
Mandiri dan transparan, itulah kesan yang muncul dari
pengelolaan dana perbaikan jalan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini.
Di saat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat menghambat turunnya alat
berat, warga justru berhasil menghimpun dana puluhan juta rupiah secara
sukarela.
Koordinator Kegiatan Gotong Royong, Stepanus,
mengungkapkan bahwa sumber pendanaan untuk kegiatan korve (kerja bakti) ini
datang dari berbagai lapisan. Tak hanya warga setempat, dukungan mengalir dari
sektor pendidikan, kesehatan, hingga para wakil rakyat.
“Sumber dana yang digunakan untuk korve ialah dari sumbangan
sukarela (donasi) dari masyarakat, para guru, nakes, para kades, staf dan
perangkat desa, tokoh masyarakat dan dari beberapa orang anggota DPRD
kabupaten, DPRD provinsi bahkan DPRD pusat. Jumlah dana yang terkumpul melalui sumber
tunai dan non tunai sebesar 30 lebih juta.
Sisa saldo Korve hasil donasi sebesar 20 lebih juta yg akan
digunakan untuk Korve berikutnya (kedua) beberapa bulan yg akan datang.” Jelasnya
Kekecewaan masyarakat Sungkung Komplek, Kecamatan Siding,
Kabupaten Bengkayang, nampaknya telah mencapai titik didih. Setelah
bertahun-tahun menelan janji pembangunan yang kandas akibat alasan
"efisiensi", warga di garis perbatasan RI-Malaysia ini kini
melayangkan peringatan keras bagi penguasa di Jakarta.
Bukan sekadar keluhan, masyarakat menuntut keadilan
anggaran. Mereka meminta Pemerintah Pusat tidak hanya terpaku pada
program-program strategis nasional yang populer, namun abai terhadap urat nadi
kehidupan di pelosok negeri.
Masyarakat menyoroti ketimpangan prioritas pembangunan. Di
saat pemerintah gencar mempromosikan program strategis seperti Makan Bergizi
Gratis (MBG), infrastruktur dasar di pedalaman justru dibiarkan lumpuh.
“Masyarakat berharap supaya pemerintah bisa memberikan
perhatian khusus untuk jalan di daerah khusus seperti jalan penghubung
masyarakat Sungkung ke pusat kecamatan. Masyarakat meminta kepada pemerintah
pusat supaya jangan hanya fokus ke program strategis seperti MBG tapi melupakan
infrastruktur di daerah pedalaman dan perbatasan seperti di daerah Sungkung.” Tambahnya
Puncaknya, masyarakat Sungkung memberikan ultimatum yang
cukup menggetarkan peta politik lokal maupun nasional. Jika dalam beberapa
bulan atau tahun ke depan tidak ada alokasi dana khusus untuk penggusuran dan
perbaikan jalan tersebut, warga mengancam akan melakukan aksi boikot politik.
“Masyarakat memberikan ultimatum kepada pemerintah pusat
khususnya jika sekian bulan atau tahun kedepan tidak ada upaya dari pemerintah
untuk mengalokasikan dana khusus untuk mengusur jalan tersebut maka masyarakat
berencana akan kompak untuk Golput di kegiatan pemilu tahun 2029 mendatang,
khususnya di pemilihan presiden!” Imbuhnya tegas
Bagi warga Sungkung, kedaulatan bukan hanya soal menjaga
patok perbatasan, tapi juga soal akses yang layak menuju fasilitas kesehatan,
pendidikan, dan ekonomi. Jika negara terus berdalih dengan kata
"efisiensi" untuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia
(Kampung Gumbang), maka masyarakat merasa tidak ada alasan untuk terus
memberikan mandat politik mereka.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Akankah suara
dari "puncak S" ini didengar, ataukah Sungkung akan benar-benar
menjadi wilayah yang terisolasi secara infrastruktur sekaligus aspirasi di 2029
nanti?
Rep. Latip Ibrahim


