Notification

×

Iklan Tampilan Dekstop

Iklan Tampilan HP

Sungai Sebuluh Berubah Jadi Lumpur, Ratusan Mahasiswa ISB Bengkayang Krisis Air Bersih, Praktik PETI Kian Menantang Hukum!

Minggu, 12 April 2026 | April 12, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-12T13:37:29Z

 

Air Terjun Sebopet


π—•π—˜π—‘π—šπ—žπ—”π—¬π—”π—‘π—š, π—―π—Όπ—Ώπ—±π—²π—Ώπ˜π˜ƒ.𝗼𝗻𝗹𝗢𝗻𝗲 – Krisis lingkungan hebat tengah menghantam Kelurahan Sebalo, Kecamatan Bengkayang. Sungai Sebuluh dan ikon wisata Riam Sebopet yang menjadi urat nadi air bersih bagi warga serta ratusan mahasiswa Institut Shanti Bhuana (ISB), kini berubah drastis menjadi aliran lumpur berwarna cokelat pekat.


Pencemaran yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir ini dipastikan berasal dari aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau "dompeng" di hulu sungai yang kian tak terkendali.


Kondisi ini memicu kemarahan besar, terutama di lingkungan Kompleks Institut Shanti Bhuana. Riam Sebopet bukan sekadar tempat wisata, melainkan sumber air utama bagi mahasiswa untuk keperluan sehari-hari.


“Ini sumber air bersih yang dipakai kampus Shanti Bhuana untuk anak kos mandi dan cuci baju, bahkan kadang dimasak untuk diminum. Intinya, air terjun ini setiap hari ramai orang mandi, apalagi kalau kemarau,” ungkap JB Marbun, tokoh masyarakat di Kompleks ISB Bengkayang dengan nada kecewa.




Kini, hak dasar warga dan mahasiswa untuk mendapatkan air bersih terenggut oleh limbah sedimen tambang yang dibuang secara serampangan ke aliran sungai.


Pencemaran yang berlangsung terang-terangan selama berbulan-bulan tanpa tindakan tegas memicu tudingan miring terhadap kinerja pihak berwenang di Kabupaten bengkayang, terutama Polres dan Jajarannya. JB Marbun secara gamblang menyebut situasi ini sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam melindungi lingkungan dan rakyatnya.


“Ini akibat gagal dan mandulnya pemerintah serta APH (Aparat Penegak Hukum) yang tidak bisa mengarahkan masyarakatnya. Seharusnya ada pembinaan dan ruang yang diatur, sehingga tidak semua lahan dirusak demi emas,” tegas Marbun.


lumpur pekat masih terus mengalir memenuhi badan sungai. Jika tidak segera diambil langkah hukum yang konkret dan solusi penataan lahan tambang, kesehatan ribuan mahasiswa dan warga Kelurahan Sebalo berada di ujung tanduk, sementara Riam Sebopet hanya akan tinggal nama dalam sejarah wisata Bengkayang.


Ratusan mahasiswa Institut Shanti Bhuana (ISB) yang tinggal di asrama kini dilaporkan kehilangan akses air bersih. Aktivitas dasar seperti mandi dan mencuci pakaian menjadi kemewahan yang sulit didapatkan karena air sungai yang menjadi sumber utama telah berubah menjadi lumpur cokelat.


Kekecewaan mendalam datang dari pihak akademisi Institut Shanti Bhuana. Melalui pesan singkat, Romo Eugene D. Alniya, perwakilan dari ISB, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat perusakan lingkungan ini. Namun, upaya diplomasi yang dilakukan selama ini seolah menemui jalan buntu.


"Kita sudah beberapa kali pihak ISB, tokoh masyarakat, dan ketua kelompok tani menghadap Kapolsek dan Kapolres menyampaikan keluhan PETI," ungkap Romo Eugene.


Ironisnya, meski pengaduan telah disampaikan berkali-kali kepada aparat penegak hukum, aktivitas ilegal di hulu sungai tersebut terkesan hanya berhenti sejenak untuk kemudian beroperasi kembali. Penegakan hukum di lapangan dinilai tidak memberikan efek jera yang nyata.


"Sebentar saja mereka pasang garis polisi (Police Line), setelah itu muncul lagi," lanjut Romo Eugene, menggambarkan pola "kucing-kucingan" antara pelaku tambang ilegal dengan aparat.


Pencemaran ini tidak hanya merusak sanitasi asrama mahasiswa, tetapi juga mematikan perputaran ekonomi warga sekitar yang bergantung pada kejernihan Riam Sebopet sebagai daya tarik wisata. Kelumpuhan akses air bersih ini dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar jika tidak segera ditangani secara permanen.


Masyarakat kini menagih ketegasan Kapolda Kalbar untuk turun tangan, mengingat koordinasi di tingkat lokal (Polsek dan Polres) dianggap belum mampu menghentikan mesin-mesin "dompeng" yang terus memuntahkan lumpur ke sumber kehidupan warga Bengkayang.


Rep. Latip Ibrahim 

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update