![]() |
| Tokoh Masyarakat Tionghoa Andi Max dan Ketua Mangkok Merah Kabupaten Bengkayang Darsono |
πππ‘ππππ¬ππ‘π, π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π² – Gelombang desakan agar kepolisian transparan dalam mengusut skandal oknum polisi terlibat narkoba di Kecamatan Seluas terus mengalir. Kali ini, sorotan tajam datang dari Andi Max, tokoh Tionghoa sekaligus salah satu sosok penting yang membidani lahirnya Kabupaten Bengkayang pada tahun 1999.
Dalam pernyataannya, Andi Max menegaskan bahwa persoalan narkoba bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan ancaman eksistensial bagi bangsa.
"Narkoba itu adalah musuh besar negara dan lebih kejam dari PKI. Karena narkoba itu merusak generasi muda. Untuk menyambut Generasi Emas Tahun 2045, tidak ada toleransi untuk masalah narkoba. Maka kita sebagai warga negara yang baik harus mendukung Polri memberantas narkoba," tegas Andi Max.
Terkait adanya oknum anggota yang terlibat dalam peristiwa di Kecamatan Seluas, Andi Max mengaku prihatin namun tetap menaruh harapan besar pada institusi Polri. Ia meyakini bahwa tindakan segelintir oknum tidak mencerminkan institusi secara keseluruhan.
"Ada peristiwa di Kecamatan Seluas yang melibatkan oknum. Namun, saya yakin masih banyak polisi yang baik dan peduli dengan bangsa serta Negara Republik Indonesia," lanjutnya.
Sebagai bentuk keseriusan dalam pemberantasan narkoba di internal kepolisian, Andi Max memberikan saran konkret kepada jajaran Polres Bengkayang agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Meminta Polres Bengkayang melakukan tes urine rutin setiap 3 bulan sekali bagi seluruh anggota di wilayah Kabupaten Bengkayang tanpa terkecuali, Mendesak penegakan hukum yang seadil-adilnya bagi siapa pun pengguna atau pengedar narkoba di wilayah Bengkayang, dan Memastikan tidak ada ruang bagi oknum "pemain" narkoba di dalam korps bayangkara.
"Tegakkan hukum yang seadil-adilnya, tanpa pandang bulu siapa dia. Ini demi masa depan daerah yang kita bangun dengan susah payah ini," pungkas tokoh yang ikut memperjuangkan otonomi Bengkayang tersebut.
Desakan dari tokoh senior ini menambah tekanan bagi Polda Kalbar dan Polres Bengkayang untuk segera menuntaskan kasus "Polisi Tembak Polisi" yang bermuatan narkotika tersebut secara profesional dan akuntabel.
Tekanan serupa terhadap Polda Kalbar dan Polres Bengkayang untuk membuka tabir kasus "Polisi Tembak Polisi" yang melibatkan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 2 kilogram semakin menguat. Kali ini, desakan muncul dari Ketua Mangkok Merah Kabupaten Bengkayang (MMKB), Darsono.
Dengan menggaungkan semboyan khas Dayak, "Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata," Darsono menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas minimnya informasi transparan terkait perkembangan kasus tersebut.
Darsono menyoroti bahwa hingga saat ini, masyarakat belum melihat adanya titik terang atau rilis resmi yang memuaskan dari pihak kepolisian mengenai insiden berdarah yang dipicu oleh peredaran barang haram tersebut.
"Saya menyampaikan bahwa ada kejadian yang selama ini kita ketahui, polisi tembak polisi karena sabu 2kg. Tetapi hal tersebut belum ada titik terang dari pihak kepolisian, baik Polres Bengkayang maupun Kapolda Kalbar," ujar Darsono tegas.
Ketua MMKB ini mengungkapkan kekhawatiran besar bahwa pembiaran terhadap peredaran narkoba, terlebih jika melibatkan oknum aparat, akan menghancurkan masa depan generasi muda, khususnya masyarakat adat Dayak di Bengkayang.
"Jangan sampai anak bangsa, khususnya anak Dayak, hancur karena narkoba. Kasihan masa depan ke depan kalau narkoba merajalela dibiarkan oleh aparat, apalagi jika aparat sendiri menjadi salah satu pelakunya. Di media sosial jelas kita lihat dugaan keterlibatan oknum anggota kepolisian," tambahnya.
Selain mendesak kepolisian, Darsono juga memberikan pesan kuat kepada para pemuda agar membentengi diri dari pengaruh narkotika. Menurutnya, keterlibatan aparat dalam lingkaran narkoba adalah sinyal bahaya yang harus diantisipasi oleh masyarakat secara mandiri.
"Saya harap untuk anak muda Dayak, jangan sampai terkena barang yang namanya sabu. Masa depan kalian pasti hancur," pungkas Darsono menutup pernyataannya.
Munculnya suara dari Mangkok Merah ini menandakan bahwa isu keterlibatan oknum polisi dalam peredaran sabu di Bengkayang telah menjadi perhatian serius lintas tokoh masyarakat dan organisasi adat di Kalimantan Barat.
Rep. Latip Ibrahim


