![]() |
| Ilustrasi Gambar Krisis Air Minum di Kota Pontianak Kalimantan Barat |
π£π’π‘π§πππ‘ππ, π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π² — Krisis air minum mulai membayangi warga Kota Pontianak. Sejumlah produsen air minum mengeluhkan menipisnya debit sumber air di sejumlah titik, sementara permintaan masyarakat terus meningkat.
Kemarau yang mulai terasa sejak pertengahan Juni 2026 diperkirakan masih berlangsung hingga September. Kondisi tersebut membuat banyak warga kesulitan mendapatkan air minum karena sejumlah sumber mata air mengalami penurunan debit.
Selain faktor kemarau, alih fungsi lahan juga menjadi perhatian. Studi tim peneliti Universitas Brawijaya di Sub DAS Landak sebelumnya telah menunjukkan, bahwa berkurangnya tutupan hutan dapat menurunkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air.
Dampaknya dapat terjadi pada dua musim. Saat hujan, berkurangnya daerah resapan meningkatkan aliran air di permukaan dan berpotensi memicu banjir. Sementara saat kemarau, cadangan air tanah yang berkurang dapat menyebabkan debit mata air menyusut hingga mengering.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat perlindungan kawasan resapan serta menjaga keberlanjutan sumber air, agar kemarau panjang tidak berkembang menjadi krisis air bersih yang lebih serius. (Gusti)


