![]() |
| Warga Sungkung Evakuasi Warga Yang Sakit Dengan Tandu Menuju Rumah Sakit dengan Jarak Tempuh Hingga Puluhan Kilometer |
πππ‘ππππ¬ππ‘π, π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π² – Media sosial tengah dihebohkan dengan beredarnya video dan foto yang memperlihatkan perjuangan warga di kawasan Sungkung Kompleks, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Dalam visual yang viral tersebut, tampak sejumlah warga harus menandu pasien menggunakan alat seadanya berupa kayu dan bambu untuk menempuh perjalanan menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Kondisi ini disebut bukanlah kejadian baru. Warga setempat mengungkapkan bahwa praktik "ambulance bambu" ini sudah menjadi pemandangan rutin yang tak terhitung jumlahnya sejak Indonesia merdeka. Ketiadaan akses jalan yang layak memaksa warga harus berjibaku melintasi medan berat hanya untuk mendapatkan pertolongan medis.
Unggahan yang menampilkan potret kemiskinan akses ini memicu gelombang simpati sekaligus kemarahan dari warganet. Menanggapi kondisi tersebut, Stepanus, salah satu tokoh masyarakat Sungkung Kompleks, menyampaikan kritik tajam terkait prioritas pembangunan pemerintah pusat.
"Permintaannya supaya infrastruktur di pedalaman dan perbatasan diperhatikan. MBG (Makan Bergizi Gratis) tidak terlalu penting, yang lebih penting adalah akses jalan," tegas Stepanus.
Pernyataan tersebut menyoroti kesenjangan antara kebijakan nasional dengan kebutuhan mendesak masyarakat di wilayah terdepan Indonesia. Baginya, akses transportasi adalah fondasi utama yang menentukan keselamatan nyawa warga perbatasan.
dipenuhi dengan beragam reaksi. Sebagian besar warganet mengaku miris dan kecewa melihat kondisi infrastruktur di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut.
Banyak warganet yang mempertanyakan keadilan pembangunan, mengingat wilayah perbatasan seharusnya menjadi wajah depan negara.
Publik mendesak Pemerintah Kabupaten Bengkayang dan Pemerintah Pusat untuk segera mengambil langkah konkret, bukan sekadar janji perbaikan jalan yang sudah bertahun-tahun dinantikan.
Tidak sedikit pula yang membandingkan kondisi akses jalan di sisi Indonesia dengan wilayah perbatasan negara tetangga yang jauh lebih memadai, sehingga menimbulkan sentimen negatif terhadap perhatian pemerintah pada warga lokal.
Dalam keterangan tambahan, Stepanus menekankan bahwa masyarakat di wilayah perbatasan sebenarnya memiliki daya juang yang tinggi untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka secara mandiri. Namun, untuk urusan aksesibilitas, masyarakat tidak memiliki kapasitas dan otoritas untuk melakukan pembangunan.
"Urusan makan masyarakat masih bisa usahakan sendiri, tapi urusan infrastruktur masyarakat tidak bisa upayakan supaya jadi infrastruktur yang layak dilewati," ujar Stepanus dengan nada tegas.
Pernyataan ini menjadi sindiran keras bagi kebijakan yang dianggap lebih mementingkan program-program populis seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibandingkan menyelesaikan persoalan mendasar seperti pembangunan jalan yang layak.
Bagi warga Sungkung Kompleks, jalan bukanlah sekadar akses ekonomi, melainkan jalur hidup dan mati. Ketergantungan pada tandu bambu setiap kali ada warga yang sakit menunjukkan bahwa negara belum benar-benar hadir untuk menjamin hak dasar warga negara di perbatasan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai rencana tindak lanjut pembangunan jalan di wilayah Sungkung Kompleks. Masyarakat setempat berharap viralnya video ini dapat membuka mata para pengambil kebijakan agar akses kesehatan tidak lagi harus dipertaruhkan di atas tandu bambu.
Rep. Latip Ibrahim


