![]() |
| Warga Desa Tawang Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang Spontan Nandu Orang Sakit Bawa ke Rumah Sakit Pratama Jagoi Babang Melalui Jalur Hutan |
πππ‘ππππ¬ππ‘π, π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π² – Sebuah foto memilukan kembali membanjiri jagat maya, memicu diskusi panas mengenai arti merdeka yang sesungguhnya. Di Wilayah Perbatasan Indonesia-Malaysia di Desa Tawang, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, aspal mulus masih menjadi kemewahan yang hanya ada dalam mimpi. Di sana, nyawa manusia harus bertaruh pada kekuatan pundak para warga dan sebilah tandu bambu.
Kutipan seorang warga net menjadi pemantik diskusi yang menyesakkan dada, "Sudah 81 tahun lepas dari penjajahan kolonial Belanda, yang disebut merdeka, hari ini masih melihat saudara kita sakit dengan cara ditandu menuju rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis." tulis salah satu warga net di media sosial miliknya
Kalimat ini bukan sekadar keluhan, melainkan tamparan bagi pemerataan pembangunan. Di saat kota-kota besar merayakan digitalisasi dan transportasi modern, warga Tawang masih harus berjibaku dengan jalur tanah yang licin dan curam.
Gotong royong sering kali diagungkan sebagai ciri khas bangsa. Namun, di Desa Tawang, gotong royong membawa orang sakit adalah bentuk pertahanan hidup karena ketiadaan fasilitas.
Medan berat tanpa akses jalan yang layak, kendaraan roda empat bahkan motor dalam kondisi cuaca buru tidak mampu menjangkau wilayah Desa Tawang dan Sekitarnya
Waktu tempuh perjalanan membawa pasien dengan tandu bisa memakan waktu berjam-jam melewati hutan belantara dan perbukitan sebelum mencapai fasilitas medis terdekat. Kondisi pasien sering kali memburuk di tengah jalan akibat guncangan dan lamanya waktu evakuasi.
Bagi warga setempat, memikul tandu sejauh berkilo-kilometer bukan lagi soal kepahlawanan, melainkan keharusan yang melelahkan. Mereka tidak butuh pujian atas kekompakan mereka, mereka butuh alat berat yang meratakan jalan dan aspal yang menyatukan desa mereka dengan peradaban medis.
Selama Ambulans Bambu masih menjadi pemandangan sehari-hari di pelosok Bengkayang, maka kata Merdeka akan selalu menyisakan tanya yang menggantung di pundak warga Desa Tawang. Pembangunan bukan hanya tentang membangun gedung pencakar langit, tapi tentang memastikan tidak ada lagi nyawa yang terancam karena tertahan lumpur jalanan.
Realita di lapangan jauh lebih berat daripada sekadar untaian kata di media sosial. Kaneng, salah satu Tokoh Masyarakat Desa Tamong yang menyaksikan langsung perjuangan warga, mengonfirmasi bahwa evakuasi medis hari ini bukanlah kejadian pertama, dan mungkin bukan yang terakhir.
"Iya, nandunya memang dari Tawang, ikut jalan hutan. Hari ini mereka menuju Rumah Sakit Pratama Jagoi Babang," ungkap Kaneng dengan nada getir.
Jalur hutan sebagai pilihan tunggal istilah ikut jalan hutan bukan sekadar kiasan. Ini berarti melewati jalan setapak yang sempit, akar pohon yang melintang, serta tanjakan curam yang licin. Dalam kondisi memikul beban manusia, setiap langkah adalah pertaruhan nyawa bagi penandu maupun yang ditandu.
Destinasi yang jauh, Rumah Sakit Pratama Jagoi Babang adalah mercusuar harapan bagi warga Siding. Namun, jarak antara Desa Tawang menuju Jagoi Babang melalui jalur tikus di dalam hutan bukanlah perjalanan singkat. Ini adalah maraton darurat yang memakan energi dan waktu, di mana setiap detik sangat berharga bagi keselamatan pasien.
Solidaritas tanpa batas di balik kutipan Kaneng, tersirat gerak cepat warga yang spontan meninggalkan pekerjaan di ladang demi membantu sesama. Tanpa instruksi formal, pundak-pundak warga Desa Tamong dan Tawang bersatu menjadi penyambung nyawa.
Kutipan dari tokoh masyarakat ini mempertegas bahwa masalah ini bersifat sistemik. Saat seorang tokoh masyarakat mulai angkat bicara, itu adalah sinyal bahwa kesabaran warga sedang diuji di titik nadir.
Perjalanan menuju Jagoi Babang hari ini bukan hanya perjalanan membawa orang sakit, melainkan sebuah aksi bisu yang menagih janji pembangunan infrastruktur di beranda depan NKRI. Jika jalan hutan tetap menjadi satu-satunya jalur evakuasi, maka akses kesehatan yang layak bagi warga Bengkayang hanyalah slogan yang belum membumi.
Rep. Latip Ibrahim


