Notification

×

Iklan Tampilan Dekstop

Iklan Tampilan HP

Bupati Bengkayang Tegaskan Pembangunan di Taman Sekayok SDR Adalah Simbol Keberagaman dan Ruang Terbuka Publik

Jumat, 01 Mei 2026 | Mei 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-01T16:30:08Z

 


π—•π—˜π—‘π—šπ—žπ—”π—¬π—”π—‘π—š, π—―π—Όπ—Ώπ—±π—²π—Ώπ˜π˜ƒ.𝗼𝗻𝗹𝗢𝗻𝗲 – Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, S.E., M.M., memberikan tanggapan resmi terkait isu pembangunan struktur bangunan di Taman Sekayok Damai Raya (SDR), yang berlokasi tepat di depan Kantor Bupati Satu Atap Bengkayang.


Menanggapi polemik yang sempat muncul mengenai arsitektur bangunan tersebut, Bupati Sebastianus Darwis menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen membangun Bengkayang yang inklusif dan mencerminkan keharmonisan seluruh etnis.


Bupati menekankan bahwa Taman Sekayok Raya SDR dirancang sebagai ruang terbuka publik yang dapat dinikmati oleh seluruh warga Bengkayang tanpa memandang latar belakang.


Terkait keberadaan arsitektur pembangunan rumah Joglo atau unsur budaya lainnya, Bupati menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan representasi dari keberagaman etnis yang ada di Kabupaten Bengkayang. Beliau ingin taman tersebut menjadi simbol keharmonisan antara masyarakat Dayak, Melayu, Tionghoa, Jawa, dan etnis lainnya.


Pembangunan tersebut ditujukan untuk mempercantik wajah kota dan menyediakan fasilitas yang nyaman bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, maupun melakukan aktivitas budaya.


Bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melihat pembangunan ini dari kacamata positif sebagai upaya mempererat tali persaudaraan. Ia meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang bersifat memecah belah.


Meskipun terdapat unsur keberagaman dalam desain taman, Bupati Sebastianus Darwis memastikan bahwa identitas budaya lokal tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan daerah secara keseluruhan.


"Bengkayang adalah rumah besar bagi kita semua. Taman Sekayok ini kita bangun untuk memperlihatkan bahwa di Bengkayang, semua etnis hidup berdampingan dengan damai. Kita bangun identitas kebersamaan dalam keberagaman," ungkap Bupati dalam sesi wawancara saat ditemui dirumah dinasnya pada 30 April 2026, Kamis Malam


Dengan adanya penjelasan langsung dari kepala daerah ini, diharapkan tidak ada lagi spekulasi negatif di tengah masyarakat, dan pembangunan Taman Sekayok SDR dapat segera rampung untuk memberikan manfaat luas bagi warga Kabupaten Bengkayang.


Sementara itu, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Monterado sekaligus Kepala Benua Garantunkg, Libertus Hansen, S.H., M.Si, memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan opini publik yang berkembang terkait isu pembangunan bangunan menyerupai rumah Joglo di kawasan Taman Sekayok, Kabupaten Bengkayang.


Dalam pernyataannya, Libertus Hansen menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami duduk perkara secara jernih agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berpotensi memicu polemik sosial atau etnis di wilayah tersebut.


Libertus Hansen menekankan bahwa keberadaan ornamen atau bangunan tertentu di ruang publik bukan berarti mengabaikan identitas budaya Dayak sebagai penduduk asli. Sebaliknya, hal ini harus dilihat dalam bingkai keberagaman dan keharmonisan antar etnis di Bengkayang.


Beliau menjelaskan bahwa pembangunan di taman kota seringkali mempertimbangkan aspek estetika dan simbol inklusivitas. Taman Sekayok diharapkan menjadi simbol "rumah bersama" bagi seluruh lapisan masyarakat Bengkayang yang majemuk.


Sebagai tokoh adat, beliau memastikan bahwa komunikasi dengan pihak pemerintah daerah terus berjalan agar setiap pembangunan tetap menghormati kearifan lokal tanpa menutup diri dari perkembangan arsitektur yang melambangkan persatuan nasional.


Sebagai Kepala Benua Garantunkg, Libertus Hansen mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumbernya di media sosial.


"Kita harus bijak melihat pembangunan ini. Jangan sampai isu arsitektur memecah belah persaudaraan kita yang sudah terjaga baik di Bumi Sebalo ini. Mari kita kedepankan dialog dan musyawarah," ujar Libertus Hansen.


Ia juga menambahkan bahwa DAD akan terus mengawal agar pembangunan di Bengkayang tetap memiliki ruh budaya lokal yang kuat, namun tetap ramah terhadap nilai-nilai kebhinekaan.


Kali ini, Kepala Banua Palayo, Iyul, memberikan pernyataan tegas mengenai status lahan dan wilayah administratif adat tempat proyek tersebut dilaksanakan. Dalam wawancara terbarunya, Iyul mengklarifikasi bahwa secara historis dan administratif adat, lokasi pembangunan tersebut masuk dalam cakupan wilayah Banua Palayo.


Iyul menjelaskan bahwa sebagai Kepala Banua, dirinya merasa perlu untuk memberikan kepastian kepada masyarakat agar tidak terjadi tumpang tindih informasi mengenai kepemilikan atau hak ulayat di area tersebut.


Pembangunan yang tepat berada di depan Kantor Bupati Bengkayang tersebut secara adat merupakan bagian dari wilayah Banua Palayo yang sejak lama diakui oleh masyarakat sekitar.


Iyul menegaskan bahwa meskipun lokasi tersebut berada di wilayah Banua Palayo, pihaknya mendukung penuh langkah Pemerintah Kabupaten Bengkayang dalam mempercantik kota dan membangun fasilitas publik yang bermanfaat bagi orang banyak.


Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah dengan tokoh adat setempat agar setiap pembangunan yang dilakukan tetap mengacu pada penghormatan terhadap batasan wilayah adat yang ada.


Kepala Banua Palayo ini berharap agar isu pembangunan ini tidak dipolitisasi atau digiring ke arah yang dapat merusak tatanan sosial yang sudah ada. Menurutnya, kejujuran mengenai asal-usul dan status lokasi pembangunan adalah kunci untuk menjaga perdamaian di Kabupaten Bengkayang.


"Penting bagi semua pihak untuk mengetahui bahwa lokasi tersebut berada di wilayah Banua Palayo. Kami terbuka terhadap pembangunan, namun pengakuan terhadap wilayah adat juga merupakan bagian dari identitas yang harus kita jaga bersama," tegas Iyul dalam sesi wawancara tersebut.


Pernyataan dari Kepala Banua Palayo ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam melihat peta pembangunan di Kabupaten Bengkayang dari sisi kearifan lokal dan batas wilayah adat.


Selanjutnya, Ketua Majelis Adat Budaya Jawa (MABJ) Kabupaten Bengkayang, Sutrisno, memberikan apresiasinya terhadap langkah Pemerintah Kabupaten Bengkayang yang mengedepankan nilai-nilai inklusivitas dalam pembangunan ruang publik.


Dalam keterangannya, Sutrisno menegaskan bahwa keberadaan elemen arsitektur yang merepresentasikan berbagai budaya di Bengkayang, termasuk unsur pembangun rumah Joglo, harus dimaknai sebagai upaya mempererat persatuan, bukan sebagai pemicu perpecahan.


Sutrisno menyampaikan beberapa poin penting terkait pembangunan yang berlokasi di depan Kantor Bupati Satu Atap tersebut. MABJ mengapresiasi kebijakan Bupati Bengkayang yang ingin menjadikan Taman Sekayok sebagai "ikon kebersamaan". Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa pemerintah mengakui dan menghargai keberadaan seluruh etnis yang telah lama hidup berdampingan di Bengkayang.


Ia melihat bahwa integrasi simbol-simbol budaya di ruang publik adalah langkah cerdas untuk mengedukasi generasi muda tentang indahnya keberagaman. "Ini adalah wujud nyata dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika di tingkat lokal," ujarnya.


Sutrisno mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya warga keturunan Jawa di Bengkayang, untuk terus menjaga komunikasi yang baik dengan suku bangsa lain, terutama suku Dayak sebagai penduduk asli, serta etnis Tionghoa dan Melayu.


Ia menegaskan bahwa MABJ selalu berkomitmen untuk mendukung visi "Bengkayang Mantap" dan memastikan bahwa setiap warga Jawa di Bengkayang berkontribusi positif bagi kondusifitas daerah.


"Kami merasa sangat dihargai dengan adanya sentuhan budaya yang beragam di taman tersebut. Ini bukan soal dominasi salah satu budaya, melainkan tentang bagaimana kita semua merasa memiliki Kabupaten Bengkayang ini secara bersama-sama," ungkap Sutrisno.


Pernyataan ini sekaligus memperkuat dukungan tokoh-tokoh adat sebelumnya yang menginginkan Taman Sekayok SDR menjadi pusat interaksi sosial yang damai, sekaligus destinasi wisata yang menunjukkan identitas Bengkayang yang majemuk dan harmonis.



Rep. Latip Ibrahim 


TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update