πππ‘ππππ¬ππ‘π, π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π² – Semangat bela diri dan kekeluargaan Masyarakat Adat Benua Palayo di Kampung Sekayok, Kelurahan Sebalo, Kecamatan Bengkayang, kembali melaksanakan ritual sakral Ngate Kaja Pade pada Senin (20/4/2026). Ritual tahunan ini merupakan tradisi turun-temurun sebagai ungkapan syukur sebelum masyarakat diperbolehkan mengonsumsi beras baru hasil panen tahun ini.
Kegiatan dipusatkan di tempat sakral yang dikenal sebagai Padagi atau Pantak Padagi. Di lokasi inilah, para tokoh adat dan warga berkumpul untuk melakukan ritual pemberian sesaji dan doa kepada Sang Pencipta (Jubata).
Kepala Benua Palayo, Iyul, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan bentuk penghormatan terhadap hasil bumi yang telah menghidupi masyarakat.
"Hari ini kami di Padagi Rangkang, Masyarakat adat Rangkang Benua Palayo mengadakan Kegiatan Ngate Kaja Pade yang ke-6 tahun 2026. Ngate Kaja Pade ini adalah adat budaya kita orang Dayak Palayo, yaitu mengambil padi pertama dari ladang, dibawa ke padagi sebagai persembahan atau rasa syukur kita kepada Jubata bahwa kita mendapatkan hasil panen pada tahun ini," ujar Iyul saat ditemui di lokasi ritual.
Setelah prosesi doa di Padagi selesai, acara dilanjutkan dengan Arakan Perahu Ajokng. Perahu simbolis ini berisi benih-benih padi pilihan yang dibawa dengan khidmat dari Padagi menuju kediaman Panyangah (pembaca ritual adat).
Perahu Ajokng melambangkan wadah berkah yang akan menjaga ketersediaan pangan masyarakat Benua Palayo hingga musim panen berikutnya.
Tradisi ini memiliki aturan yang sangat ketat. Iyul menekankan bahwa pasca ritual, area Padagi menjadi kawasan terlarang untuk dikunjungi sementara waktu.
"Acara Ngate Kaja Pade memang harus diadakan di sini (Padagi). Perlu diketahui, ada pantangan selama 3 hari ke depan tidak boleh ada yang mengunjungi tempat Padagi pasca ritual ini dilaksanakan," pungkasnya.
Keberhasilan acara ini tidak terlepas dari peran perangkat adat Benua Palayo yang menjaga kelestarian tradisi, di antaranya, Kepala Benua Palayo, Iyul, Ketua Adat Benua, Dale, dan Panyangah, Tambi.
Wilayah Benua Palayo sendiri merupakan entitas adat yang luas, mencakup 16 wilayah/kampung, yaitu:
1. Rangkang
2. Malosa
3. Melabo
4. Sebopet
5. Sentagi, sentagi pisang dan tapak
6. Dungkan
7. Kelurahan bumi emas sebagian
8. Tampe
9. Riam Palayo
10. Ketiat
11. Salome
12. Sebawak
13. Sansak
14. Sengkabak
15. Sepotek
16. Malakos
Dengan dilaksanakannya ritual Ngate Kaja Pade ini, masyarakat Benua Palayo kini secara resmi telah diizinkan secara adat untuk memulai masa mengonsumsi beras baru hasil kerja keras mereka di ladang.
Prosesi ritual Ngate Kaja Pade di Padagi Kampung Sekayok mencapai puncaknya saat doa-doa sakral dipanjatkan oleh Panyangah. Di tengah suasana khidmat, keberadaan Perahu Ajokng menjadi pusat perhatian sebagai simbol perantara rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta.
Tambi, selaku Panyangah Benua Palayo yang memimpin ritual tersebut, menjelaskan bahwa Perahu Ajokng bukanlah sekadar properti adat, melainkan sarana komunikasi spiritual untuk memohon perlindungan atas hasil bumi masyarakat.
"Kita mengadakan acara Ngate Kaja Pade di Padagi kampong tumpuk ini, untuk mengungkap rasa syukur kita kepada Jubata, atau Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa hasil bumi kita yang kita bawa ke Padagi ini diberkati melalui perahu Ajokng ini," ucap Tambi dengan penuh khidmat di hadapan warga.
Menurutnya, butiran padi yang diletakkan di dalam perahu tersebut melambangkan seluruh hasil jerih payah petani di 16 wilayah Benua Palayo. Dengan ritual ini, diharapkan padi yang disimpan di lumbung (langkau) tidak cepat habis dan memberikan kesehatan bagi siapa saja yang mengonsumsinya.
Sebagai sosok yang membacakan ritual, Tambi menegaskan pentingnya menjaga kesucian Padagi Rangkang. Ritual ini dianggap sebagai gerbang pembuka sebelum masyarakat boleh mencicipi "Beras Baru". Tanpa melalui prosesi di Padagi, secara adat masyarakat dianggap belum mendapatkan "izin" spiritual untuk menikmati hasil panen secara luas.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Bengkayang, sekaligus pengingat bagi generasi muda Dayak Palayo untuk tetap mencintai tanah dan leluhurnya.
Rep. Latip Ibrahim


