![]() |
| Yohanes, S.Pd., S.H., Kini Jadi Advokat |
πππ‘π£ππ¦ππ₯, π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π² – Garis tangan seseorang siapa yang tahu. Namun bagi Yohanes, S.Pd., S.H., pencapaiannya hari ini bukanlah sekadar keberuntungan, melainkan buah dari keteguhan hati yang ditempa di pedalaman Borneo.
Kamis (26/2/2026), menjadi catatan sejarah baru dalam hidupnya. Di bawah tatapan khidmat Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar, pria asal Kabupaten Landak, Kalimantan Barat ini resmi mengucapkan sumpah sebagai Advokat. Di bawah naungan organisasi PERADI Nusantara, Yohanes kini sah berdiri di barisan penegak hukum.
Lahir dan besar di tengah keluarga sederhana di Kabupaten Landak, masa kecil Yohanes jauh dari kemewahan. Tumbuh dalam keterbatasan ekonomi justru membentuk mentalnya menjadi baja. Ia adalah bukti hidup bahwa dinding kemiskinan tidak cukup tinggi untuk menghalangi seseorang melihat dunia.
Sebelum mengenakan toga advokat, publik mengenalnya sebagai sosok yang gigih di dunia jurnalistik. Sebagai seorang CEO media online yang ia rintis dari titik nol, Yohanes sudah terbiasa menyuarakan kebenaran lewat tulisan. Namun, haus akan ilmu dan keinginan untuk berbuat lebih bagi masyarakat membawanya kembali ke bangku kuliah hingga meraih gelar sarjana hukum.
Meski kini telah resmi menjadi pengacara di Pulau Dewata, Yohanes tidak lupa pada tanah kelahirannya. Nama "Kampung Jabeng" dan almamaternya, STT Arastamar Ngabang, disebutnya dengan penuh rasa syukur.
"Semua ini karena penyertaan Tuhan dan doa orang tua. Saya hanya anak kampung yang diberi kesempatan untuk berjuang," ungkapnya rendah hati usai prosesi penyumpahan.
Baginya, gelar S.H. dan profesi advokat bukanlah aksesori untuk gaya hidup atau kebanggaan pribadi. Ia menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk pengabdian. Fokusnya jelas: membantu mereka yang selama ini kesulitan mendapatkan akses keadilan dan pendampingan hukum.
Kisah Yohanes dari pelosok Kalimantan Barat hingga ke ruang sidang di Bali mengirimkan pesan kuat bagi anak-anak muda di kampung: Tempat asal boleh di desa, tapi mimpi harus setinggi langit.
Kini, sang jurnalis telah bertransformasi menjadi pembela hukum. Dari memegang pena untuk menulis berita, kini ia siap memegang hukum untuk menegakkan keadilan.
Rep. Latip Ibrahim


