Notification

×

Iklan Tampilan Dekstop

Iklan Tampilan HP

"Tanda Wartawan Ndak Becus!" Ketegangan Meledak, Kadis Parpora Bengkayang vs Wartawan, Publik Geram POPDA Absen

Senin, 29 Juni 2026 | Juni 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-29T13:43:05Z

 

Perdebatan Panas Antara Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Bengkayang Rudi Hartono dan Kurnadi Wartawan Senior di Kabupaten Bengkayang


π—•π—˜π—‘π—šπ—žπ—”π—¬π—”π—‘π—š, π—―π—Όπ—Ώπ—±π—²π—Ώπ˜π˜ƒ.𝗼𝗻𝗹𝗢𝗻𝗲 – Suasana panas menyelimuti jagat informasi Kabupaten Bengkayang. Sebuah perdebatan sengit pecah di grup WhatsApp antara Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Parpora) Bengkayang dengan seorang wartawan, Kurnadi. Pemicunya? Absennya kontingen Bengkayang dari ajang bergengsi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kalimantan Barat 2026.


Kontroversi mencapai titik didih saat Kadis Parpora melontarkan pernyataan yang dinilai menyerang martabat profesi wartawan. Dalam percakapan publik tersebut, sang Kadis secara terbuka menuliskan kalimat tajam.


"Tanda wartawan ndak becus sampai ndak tahu, banyak berita di media." tulisnya pada WAG Kabar Bengkayang 


Pernyataan ini sontak memicu gelombang respons. Banyak pihak menilai tindakan seorang pejabat publik mengeluarkan kalimat bernada merendahkan tersebut sebagai bentuk resistensi terhadap kontrol sosial, alih-alih memberikan transparansi yang dituntut masyarakat.


Publik Bengkayang saat ini tengah riuh di media sosial. Facebook, Instagram, hingga TikTok dibanjiri kekecewaan warga yang mempertanyakan mengapa daerah mereka tidak mengirimkan perwakilan di ajang POPDA Kalbar 2026.


Kurnadi, yang berusaha menjalankan fungsi jurnalistiknya untuk menjembatani keresahan masyarakat, justru mendapati dirinya terjebak dalam silang sengketa. Ia menegaskan bahwa aksinya bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengurai benang kusut: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas ketidakhadiran ini?


"Kami hanya ingin jawaban resmi agar masyarakat tenang, bukan malah disuguhi informasi simpang siur," tegas Kurnadi.


Alih-alih memberikan penjelasan teknis yang komprehensif, pihak Kadis Parpora justru dinilai cenderung mengalihkan tanggung jawab. Kadis tersebut berdalih bahwa kritik sebaiknya dialamatkan langsung ke KONI Kabupaten Bengkayang. Ironisnya, posisi Ketua KONI Bengkayang saat ini dijabat oleh Bupati Bengkayang sendiri.


Kadis Parpora berjanji akan membawa masukan masyarakat ini ke dalam rapat evaluasi bersama Ketua KONI. Namun, bagi publik, janji evaluasi ini terasa seperti "kaset rusak" yang sering diputar saat terjadi kegagalan di sektor publik.


Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi kualitas komunikasi publik di Bengkayang. Apakah memang ada miskomunikasi instansi, ataukah ada faktor lain yang disembunyikan di balik ketidakhadiran atlet pelajar Bengkayang di ajang provinsi tersebut?


Kini, bola panas berada di tangan Pemerintah Kabupaten Bengkayang. Akankah mereka bersikap kooperatif dan membuka fakta di balik absennya kontingen, atau justru memilih untuk terus berkonfrontasi dengan media yang menjadi corong suara rakyat?


Redaksi bordertv.online tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak terkait untuk memberikan hak jawab atau klarifikasi resmi, sesuai dengan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, agar tidak ada lagi spekulasi liar yang memperkeruh suasana di Bumi Sebalo.



Rep. Latip Ibrahim

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update