![]() |
| Foto Proses Pengambilan Kerangka Sampel Area Ubinan di Lahan Jagung Milik Sukardi di Desa Lembang Kecamatan Sanggau Ledo, 24 Juni 2026 |
πππ‘ππππ¬ππ‘π, π―πΌπΏπ±π²πΏππ.πΌπ»πΉπΆπ»π² – Sektor pertanian di Kabupaten Bengkayang mencatatkan pencapaian fantastis. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bengkayang bersama Polres Bengkayang Polda Kalbar baru saja merampungkan ubinan sampel lahan jagung yang menghasilkan angka luar biasa 11,47 ton pipilan kering per hektare. Pengambilan data sampel yang dilakukan di dua titik lahan milik petani lokal, Sukadi, yang terletak di Desa Lembang, Kecamatan Sanggau Ledo, pada Rabu (24/6/2026)
Hasil ubinan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari praktik budidaya yang sangat optimal. Ketua Tim Pertanian BPS Kabupaten Bengkayang, Frans Kenselyan Ellin, S.E., mengungkapkan kagumnya terhadap kondisi fisik tanaman jagung di lahan tersebut.
"11,47 ton pipilan kering. 1 batang 2 tongkol. Tongkol besar-besar, minim hama, pupuk seimbang. 35 rumpun, 1 rumpun 2 batang, 1 batang 2 tongkol, wajarlah banyak," ujar Ellin dengan penuh antusias usai melakukan pengukuran langsung di lapangan.
Kombinasi antara jarak tanam yang ideal, pemupukan berimbang, serta perawatan yang intensif terbukti mampu menekan serangan hama secara signifikan. Alhasil, potensi genetik tanaman jagung dapat dimaksimalkan hingga menghasilkan tongkol berukuran jumbo dengan produktivitas ganda pada setiap batangnya.
Pelaksanaan ubinan yang melibatkan aparat kepolisian dari Polres Bengkayang ini menunjukkan komitmen kuat berbagai instansi dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Kehadiran Polri tidak hanya memastikan kelancaran kegiatan statistik, tetapi juga wujud pengawalan terhadap program-program strategis di sektor pertanian agar data yang dihasilkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan capaian produktivitas yang menyentuh hampir 11,5 ton per hektare, lahan jagung di Desa Lembang ini diharapkan menjadi inspirasi dan percontohan bagi petani lain di Kabupaten Bengkayang untuk terus meningkatkan kualitas dan hasil panen mereka demi kesejahteraan bersama.
Ketua Tim Pertanian BPS Kabupaten Bengkayang, Frans Kenselyan Ellin, SE., menegaskan bahwa hasil ubinan yang luar biasa di ladang milik Bapak Sukadi tersebut perlu dipandang secara proporsional. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta menggeneralisasi angka tersebut sebagai cerminan rata-rata produktivitas seluruh wilayah Kabupaten Bengkayang.
Menurut Ellin, pengambilan sampel ubinan di satu titik spesifik tidak cukup kuat untuk mewakili data agregat satu kabupaten.
“Kalau di BPS, Hasil ini tidak bisa menggambarkan produktifitas jagung di Kabupaten Bengkayang, karena itu kan hanya 1 sampel ubinan jagung saja di Sanggau Ledo. hal ini sulit untuk dibandingkan, karena keterwakilan sampel juga kurang memenuhi, tetapi jika semua petani jagung di kecamatan lain di Kabupaten Bengkayang, bisa lebih baik dalam pengelolaan lahan jagung nya, pemberian pupuk yang tepat waktu dengan takaran yang tepat , kecukupan air terpenuhi dan serangan hama bisa dikendalikan, maka hasil panen akan meningkat” jelas Ellin
Pernyataan ini mencerminkan integritas BPS dalam menjaga akurasi metodologi statistik. Ellin menekankan bahwa data yang valid memerlukan sebaran sampel yang luas agar mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan secara komprehensif.
Meski demikian, Ellin melihat capaian di Desa Lembang sebagai bukti konsep yang sangat berharga. Ia optimistis bahwa jika praktik pertanian yang diterapkan Bapak Sukadi dapat diadopsi secara luas di kecamatan lain, potensi jagung di Kabupaten Bengkayang akan meningkat pesat.
Dukungan nyata terhadap sektor pertanian di Kabupaten Bengkayang terus diperkuat oleh jajaran Kepolisian Resor (Polres) Bengkayang. Melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan penghitungan ubinan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), Polres Bengkayang menegaskan komitmennya dalam mengawal agenda ketahanan pangan nasional di wilayah hukumnya.
Dalam keterangan resmi melalui Humas Polres Bengkayang, Kapolres Bengkayang, AKBP Syahirul Awab, menekankan bahwa keterlibatan personel Polri dalam kegiatan lapangan ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah para petani.
Kapolres Bengkayang, AKBP Syahirul Awab, memaparkan bahwa sinergi ini sangat penting dalam menciptakan data statistik pertanian yang objektif. Data yang akurat bukan sekadar angka, melainkan instrumen vital bagi pemerintah dalam merumuskan langkah strategis.
“Penghitungan ubinan yang dilakukan bersama BPS ini menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional. Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan serta mendorong peningkatan produktivitas pertanian, khususnya komoditas jagung di Kabupaten Bengkayang,” ujar AKBP Syahirul Awab.
Menurutnya, dengan data yang valid, pemerintah daerah dapat lebih tepat sasaran dalam memberikan bantuan sarana produksi, seperti penyaluran pupuk bersubsidi maupun pendampingan teknologi bagi kelompok tani.
Kehadiran Polres Bengkayang di lapangan juga bertujuan untuk memberikan rasa aman dan motivasi bagi petani. Dengan sinergi yang terbangun antara BPS sebagai otoritas data dan Polri sebagai unsur pengamanan serta pendampingan, diharapkan tercipta ekosistem pertanian yang lebih produktif dan tertib.
Langkah kolaboratif ini menjadi bukti bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal bercocok tanam, melainkan juga soal sinergitas lintas instansi dalam memonitor perkembangan, memastikan distribusi input pertanian berjalan lancar, dan menjaga stabilitas produksi dari tingkat desa hingga ke pasar.
Melalui komitmen ini, Polres Bengkayang berharap sektor jagung di Kabupaten Bengkayang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga berkontribusi secara nyata terhadap ketersediaan pangan di tingkat nasional.
Rep. Latip Ibrahim


